This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

Cerpen Remaja - Ah...Cinta

AH…CINTA!
Oleh : De Shandy



            Seperti sudah direncanakan, bulan kemarin Titin dan Tresa selesai melangsungkan perenikahan. Sebelumnya, Yanti yang lebih dulu pergi ke kursi pelaminan. Alhamdulilah, semuanya mendapatkan laki-laki yang cukup kaya. Suami Yanti yang seorang Insyinyur. Begitu pun dengan Titin, suaminya bekerja di salah satu perusahaan besar di Indonesia. Tak hanya itu, Tresa yang sebulan lalu masih menjadi kekasihku, kini bersuamikan salah seorang pejabat pemerintahan di daerahku.
            Walau semua itu baru kabar yang kuterima dari temanku, tapi aku merasa yakin pada berita yang kudengar itu. Sewajarnyalah jika mereka harus dinikahi laki-laki yang berduit seperti keinginan orang-orang tua mereka. Mungkin karena seorang calon menantunya ini yang tidak sejajar dengan derajatnya, menyebabkan aku tidak jadi menikah dengan mereka.
            Hati terasa sakit, bagai ditusuk sembilu. Seperti tak ada yang tahu, apa sebenarnya yang telah menimpaku. Bahkan aku sendiri tak mengerti dengan kejadian yang kualami itu. Kenapa kejadiannya bisa seperti ini? Aku sendiri pun tidak mau seperti ini. Tidak! sebenarnya aku tak menginginkan untuk menyakiti hati perempuan.
            “Kalau begitu, kau itu seorang playboy. Buaya darat!” tembal teman-teman sekerjaku, ketika aku menceritakan percintaanku dengan ketiga perempuan itu.
            “Aku gitu!” tembalku sedikit sombong. Semuanya tak tahu, jika sebenarnya hatiku ini sedang menjerit. Sebab, aku sendiri tak pernah merasa menjadi buaya. Aku tak merasa menjadi orang yang suka mempermainkan perempuan. Pada kenyataannya  akulah yang telah disakiti.
            “Pokoknya, siapa saja perempuan yang ingin menikah dengan lelaki-lelaki kaya  raya,  haruslah berpacaran dulu denganku, semakin besar kualitas cintanya, maka semakin besar pula peluang mendapatkan lelaki hartawan yang diimpikannya!” kataku  sambil meninggalkan mereka. Sungguh aku tak kuat menahan rasa sakit di kepalaku yang mendadak pusing.
            Hati yang terluka ini tak tahu harus kubawa ke mana. Ini semua gara-gara perempuan-perempuan itu yang ternyata matre.
“Sialan!” umpatku.
“Kukira mereka semua sungguh-sungguh mencintaiku, ternyata ada yang diincarnya lagi. Seorang laki-laki yang berada di atasnya dalam segalanya.”
            “Uh, dasar perempuan sialan” makiku. Selebihnya, aku menyamakan bahwa semua perempuan itu tak jauh beda daripada Yanti, Titin dan Tresa yang mata duitan.  Dan dengan perasaan dongkol, akhirnya kulahap juga bakso yang tengah ada di hadapanku itu.
Di kantin di seberang kantorku, sedang asyik menyantap baso tiba-tiba saja mataku menabrak seorang perempuan yang juga sedang makan bakso di depanku. Mulanya kuacuhkan, tapi lama-kelamaan perempuan itu seperti menarik juga. Dengan  wajah bulat telur dan rambut panjang lurus yang tergerai sepunggung, ia mulai  menggoyahkan hatiku.
            “Paling-paling juga nggak jauh beda dengan mereka,” gumamku dibarengi  sebuah senyuman sinis keluar dari bibirku.
Selesai makan bakso, lantas ia pun pergi meninggalkan kantin. Kuikuti  langkah kakinya, ternyata ia masuk ke sebuah kampus tepat berada di depan kantorku. Selesai makan siang, aku segera masuk kerja lagi. Dan kelihatannya jam istirahat pun sudah habis.
            Besoknya, kembali aku pergi ke kantin itu lagi untuk makan siang. Dan memang karena itulah satu-satunya kantin yang paling dekat dengan kantorku. Aku pun kembali bertemu dengan perempuan itu. Mungkin karena merasa ada yang memperhatikannya, dia menoleh kearahku. Dan terlihat sebuah senyuman telah meluncur dari bibirnya yang merah mungil.
            “Bah, senyuman gombal,” bisikku dalam hati. Namun anehnya setiapkali aku mengumpat perempuan itu, setiap itu  pula aku selalu mengingatnya. Bahkan tidak hanya itu, malah aku selalu bertemu dengannya. dan entah kenapa lama–lama hati pun mulai terpaut kepadanya.
            “Sialan,” gumamku.
            Seperti biasa setiap hari bila aku pergi ke kantin, aku selalu bertemu dengan perempuan itu. Kecuali hari minggu, sebab karena mungkin hari libur, dan kantinnya pun tutup. Setiapkali aku bertemu dengannya, ia selalu meluncurkan senyumannya kepadaku, dan senyumannya itu perlahan-lahan mulai meluluhkan hatiku. Dan entah kenapa setiapkali aku pergi ke kantin tidak bertemu dengannya, hatiku berubah risau, gelisah tak menentu. Tapi, begitu dia datang, rasanya dada ini pun merasa plong, apalagi bila ditambah dengan lemparan senyumannya -alamak manis sekali- hati pun berasa sangat bahagia.
            “Ayo, belajar gila ya,”  kata seseorang memecahkan lamunanku.
“Kok, senyum-senyum sendiri?” kata Eko teman sekantorku yang hendak makan siang. Aku meninju bahunya.
            “Sialan, bikin kaget orang saja,” kataku.
            “Kok, ada yang menarik nggak bagi-bagi,” katanya meledekku.
            “Apanya,” tembalku malu-malu.
            “Jangan hanya dipandang, nanti keburu digaet orang, lho!” selorohnya sambil pergi menghampiri ibu kantin untuk memesan makanan.
            “Gila kamu,” kataku.
            Tapi mungkin karena rasa di dalam dadaku ini yang sudah tak tertahankan lagi, akhirnya aku pun menghampirinya juga.
            “Boleh kutahu namanya?” kataku malu-malu sambil kuulurkan tanganku. Perempuan itu pun tersenyum manis sambil menyambut uluran tanganku.
            “Wulandari” katanya ramah.
            “Andi,” jawabku sambil membalas senyumannya itu.
            Selebihnya, setelah kejadian di kantin itu, hubungan kami pun menjadi akrab, dan , ketika cinta sedang menyapaku, aku berusaha untuk menghindar dan menghindar. Namun semakin aku berlari darinya, bayangannya semakin mengejarku, dan aku semakin tak tahan menahan rindu di dalam dada ini. Dengan hati pasrah, kujalani saja kejadian ini. Biarlah semuanya berjalan seperti waktu, aku tak bisa menolaknya.
            “Ah….Cinta, ternyata aku jatuh cinta lagi.”***




Sabtu, 17 Desember 2016

Cerpen Remaja - Cinta Tak Pernah Tumbuh Di Jalan-jalan

Cinta Tak Pernah Tumbuh Di Jalan-jalan
Oleh : De Shandy


Sepucuk undangan biru kau layangkan kepadaku. Kau ceritakan deritamu. Kau buka tabir gelapmu yang tertulis dari sebagian takdir itu. Tersurat kegetiran yang teramat dalam pada dirimu. Bathinmu senantiasa bergerilya melawan gejolak yang tiada tara selalu menaungimu. Dan, kau pun telah tenggelam dalam prahara yang menimpamu. Tapi sadarilah, itu yang terbaik untukmu dan keluargamu. Aku bukan milikmu.
Kecantikan adalah suatu cobaan, sebab cinta itulah yang sempurna. Tapi jangan kau basahi kehidupanmu itu dengan limpahan air mata. Sisakan untuk sebagian kebahagiaanmu. Sandarkan sedikit perasaanmu untuk mengenang kesetiaan. Maka kau akan menang di dalam seluruh ceritamu. Dan itu mengandalkan sebagian perasaanmu.
Mana gadis manja yang kukenal dulu tersenyum manis kepadaku? Berteriaklah, jangan tahan tangismu menjerit bila itu bisa mengurangi sedikit bebanmu. Dulu, kau yang tetap teguh memegang prinsip; hidup bukan untuk diratapi, tapi untuk dinikmati. Mana jiwa cerpenis dan novelismu? Kau yang tetap keras pada semua egomu itu dan menjungjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Dimana kita tidak boleh menyerah pada waktu. Mana harga dirimu sebagai seorang penulis? Kemana ambisimu yang ingin menaklukkan dunia dengan cinta? Kenyataannya kau malah tengelam dalam crita cintamu sendiri.
Kehormatan yang setiap kali kau agung-agungkan pada karya-karyamu kini tinggalah sebuah harapan di bawah telapak kakimu sendiri. Haruskah kusebut kau sebagai pecundang? Kau yang tak mampu lagi berargumen, tak ubahnya seorang penakut yang hidup dalam tekanannya. Kau seakan tertidur dalam ceritamu sendiri.
Bangunlah Yunda! Akankah kau terus hidup dalam khayalan dan ilusimu? Lekas bangunlah Yunda! Sebegitu indahkah dunia barumu itu hingga kau lebih memilih untuk tak sadarkan diri? Masih ingatkah engkau pada dunia ini dimana tempat yang membesarkanmu untuk tegar. Bangkitlah yunda! Ingatlah bahwa kehidupan itu adalah suatu proses untuk hidup. Dan hidup bukanlah sesuatu yang kelam. Di situ tersimpan secercah harapan yang akan mengajarimu untuk lebih dewasa. Lalu peluklah harapan itu. Dan hal itu akan berguna bagi dirimu dan orang lain.
Yunda, ayo bangunlah! Apakah kau tidak ingin melanjutkan tulisanmu lagi? Ataukah kau sendiri sudah mulai lupa dengan akhir cerita dari keluarga neraka itu? Tapi baguslah jika sekarang kau sudah insyaf atas dendammu pada bapak mertuamu itu. Itu artinya kau sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkunganmu yang baru. Hidupmu telah kembali pada kebebasanmu. Dan kau sudah berhasil membuktikannya pada orang tuamu. Pada sisa sakit hatimu kepada kekuasaan ayahmu.
**

Perih. Sakit hati ini. Dengan langkah pasti aku datiag di pesta perkawinannya.
“Selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga bahagia selamanya!” ucapku sambil kujabat tangan mereka berdua. Lalu aku sendiri pergi dengan langkah yang sangat kecewa.
Tak bisa kupungkiri hati kecilku untuk bisa menyalahkan ayahmu. Kusadari bahwa seorang pengarang itu memang tidak akan bisa hidup hanya dengan memakan idealismenya saja. Mereka pastilah membutuhkan yang lain untuk dapat mengganjal perutnya. Dan semua itu bukan sekadar kepuasan bathiniah, tapi ekonomi juga.
Bukankah tak sedikti dari sebagian mereka yang rela melepaskan harga dirinya, menjual kejujurannya demi keuntungannya? Tapi aku bukanlah orang seperti itu. Itu sebabnya penghianatan kedua orang tuamu dimulai. Mereka tidak setuju bila nantinya kau harus hidup dalam dunia ilusi dan khayalan. Karena itu mereka tidak merestui hubungan kita berdua. Alhasil, mereka mulai memperkosa hak-hakmu dan mengatur segala kehidupanmu.
“Maafkan aku Yunda. Aku tak bisa memperjuangkan cintamu. Aku telah gagal dalam mempertahankanmu. Maafkan aku!’ Tak terasa basah mata telah melumuri kedua pipiku. Aku menangis.
Semenjak itu hari-hari yang kulalui terasa sepi dan hampa. Semuanya serba hambar. Namun waktu terus berjalan. Tiga tahun telah berlalu, tapi aku tak bisa melupakanmu dengan sepenuhnya.
**

Gerimis senja turun satu persatu. Kemudian deras mengguyur tanah kota. Mengingatkanku pada peristiwa yang telah menimpa Yunda. Dia adalah mawar, bukan nama sebenarnya karena sudah diganti oleh mucikarinya. Supaya tidak seperti orang kampung dan mudah dikenali, katanya.
Setelah menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya menelan pil pahit, bahkan mertuanya sendiri yang sampai tega menjerumuskannya pada jurang kenistaan itu, kini dia terlihat lebih segar dan bugar.
“Aku telah bebas…! Katanya. Walaupun tak dapat kumengerti bahwa sebenarnya dia sudah terjerumus ke dalam jurang yang lebih nista lagi. Tapi bagaimanapun juga dia seakan merasa puas telah bisa melampiaskan segala sakit hatinya itu kepada kedua orang tuanya.
Tiga tahun waktu yang telah ia habiskan bersama suaminya. Selama itu pula pil pahit yang harus ditelan Mawar. Rumah tangganya tidak berjalan mulus seperti apa yang diharapkan oleh  orang tuanya. Bahkan ketika mertuanya sendiri ikut menodai rumah tangganya, semakin bertambah pula penderitaannya. Seorang ayah yang telah memanfaatkan kesempatan pada kesempitan anaknya, ayah mertua yang telah tega memperkosa istri dari anaknya sendiri. Seorang ayah yang telah menjerumuskannya pada seorang mucikari ketika tahu situasi yang telah menimpa kehidupan rumah tangga anaknya diambang pintu kehancuran.
**

Sudah hampir tiga jam aku menunggu di tempat itu, tapi hujan tak reda juga. Lalu aku memandang ke arah langit dan awan hitam masih menggantung menandakan hujan akan cukup lama.
“Menunggu adalah pekerjaan paling menjemukkan yang pernah aku lakukan,” ucapnya. Suara yang tidak asing lagi kudengar. Kemudian aku memandang ke arah suara tersebut.
“Yunda!” pekikku.
“Kau sudah lama berteduh di sini juga?” tanyaku.
“Lumayan. Habisnya kamu melamun saja, jadinya tak menyadari kedatanganku di sini” tembalnya. Lalu ia menghampiriku, dan duduk disampingku. Tak lama kemudian tangannya dimasukannya pada sebuah tas yang dibawanya. Hendak mengambil sesuatu. Ternyata sebungkus rokok. Lalu diambilnya sebatang dan dinyalakannya. Sisanya ia simpan disampingku seakan ingin menawariku.
Tak lama kemudian kulihat asap rokok mengepul dari mulutnya. Seperti yang sudah biasa merokok. Padahal yang kutahu sebelumnya, dia itu adlah seorang perempuan yang anti rokok.
“Sendirian? Ceweknya nggak dibawa?” katanya memecahkan lamunanku yang masih merasa heran dengan sikapnya yang menjadi seorang perokok.
“Apa? Cewek! Maksudmu cewek siapa?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
“Ah kamu ini bisa saja. Ya cewek siapa lagi kalau bukan cewek kamu,” tembalnya.
“Oh itu…sekarang kan dia lagi duduk disampingku,” aku menggodanya sambil tak sengaja aku menatap matanya. Sesaat dia seakan terhanyut dalam pandangannya yang dalam sekali. Ia memandang wajahku. Tapi tak bertahan lama, dia langsung tertunduk tersipu malu. Terlihat rona merah yang memancar dari wajahnya. Seperti pertama kali aku menembaknya dulu. Dia tersipu malu-malu dengan wajah tertunduk tak berani menatapku. Tapi, ada yang berubah dari sikapnya yang sekarang. Seakan mengingatkannya pada suatu kejadian yang sedang dijalaninya. Tentu saja, dia kan sebelumnya pernah menjalin hubungan denganku. Lima tahun adalah waktu yang bukan sebentar untuk dapat melupakan sebuah kenangan. Kenangan dua orang yang saling mnecintai.
“Yunda…maafkan aku!” aku memecahklan lamunannya.
“Haah…!!”
“Aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu,”
“Tidak apa-apa. Mungkin aku saja yang terbawa suasana,” dia langsung menghapus basah matanya. Dia mencoba untuk tersenyum kembali. Walaupun kutahu dalam senyumannya itu tersimpan sebuah luka yang sangat dalam.
“Bagaimana kabar suamimu?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Dia baik-baik saja,” tembalnya.
“Lalu kenapa kau sendirian di sini malam-malam begini? Kemana suamimu? Tak baik lho seorang perempuan yang sudah berkeluarga mesih berkeliaran sendirian di luar rumah sampai larut malam.” Kataku.
“Aku kerja,” katanya singkat.
“Apa! Kerja? Apa aku tidak salah dengar?”
“Benar, aku kerja Andika”
“Bukankah suamimu itu orang kaya. Mana mungkin istri dari seorang direktur terkemuka di sini disuruh bekerja. Apalagi bekerja malam,” aku seperti tak percaya sedikit pun dengan kata-katanya itu.
“Aku sudah cerai,” tembalnya singkat.
“Apa, cerai! Tapi kenapa? Bukankah kalian saling mencintai?” tanyaku penasaran. Kemudian dia langsung manatapku.
“Aku sama sekali tidak pernah mencintainya. Apalagi untuk mencitai laki-laki yang tidak mempunyai tanggung jawab seperti itu,” tempasnya. Sementara aku merasa heran dan iba pada kehidupan yang telah menimpanya. Tidak pernah kubayangkan seperti itu jadinya. Yang kupikirkan dulu tentang dia adalah menjadi istri yang sangat bahagia dari seorang suami yang sangat kaya raya dan sangat mencintainya.
“Maksudmu tanggung jawab bagaimana?”
“Ya, rasa tanggung jawab kepada orang yang dicintainya jika ia benar-benar mencintainya. Tanggung jawab kepada istrinya sendiri yang telah diperkosa oleh ayahnya sendiri” sesaa dia menghentikan kata-katanya. Dan tak lama kulihat butir-butir air mata keluar dari sela-sela juru matanya.
“Bukan malah menuduhku telah menggoda ayahnya yang duda itu. Bahkan dia sampai rela ketika ayahnya telah menjual istrinya sendiri pada seorang mucikari. Apa itu namanya suami yang bertanggung jawab?” tegasnya. Kulihat air matanya yang semakin deras. Telah melumuri kedua pipinya.
“Yunda, maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk…”
“An..dika, aku sudah tak tahan lagi. Aku sudah tidak tahan lagi untuk terus hidup seperti ini,” lirihnya dengan suara yang parau sedang menahan sakit di hatinya. Dan tak terasa dia telah memelukku dengan eratnya, menumpahkan segala kesedihannya itu kepadaku. Begitu dalam.
“Sabarlah Yunda! Bila mau menangis, menangislah sepuasmu. Keluarkan segala kepedihanmu itu jika itu bisa membuatmu merasa lebih lega!” bisikku lirih. Mencoba untuk membesarkan hatinya.
Dan, malam pun semakin larut. Angin malam menebarkan rasa dinginnya. Menusuk pori-pori kulitku. Tanpa sadar bibirnya telah bersatu dengan bibirku. Lalu perlahan-lahan ia mulai membuka kancing bajunya satu persatu. Seperti sedang tertidur pulas dalam syahwatnya.
“Tidak, Yunda. Jangan lakukan itu!” aku perlahan-lahan melepaskan pelukannya.
“kenapa? Karena aku seorang pelacur?” Ia melepaskan pelukannya. Lalu duduk tertunduk sambil memeluk kedua lututnya yang ia rapatkan di dadanya.
“Bukan, bukan itu maksudku Yunda,” aku memberinya pengertian. Sambil kubelai mesra rambutnya.
“Lalu kenapa?” katanya.
“Aku Cuma tidak bisa melakukannya saja,” jawabku singkat.
“Apa mungkin karena kau sudah mempunyai istri?” sambil menatapku. Aku menggelengkan kepalaku.
“Lalu kenapa? Apa kamu sudah lupa akan semua kenangan kita dulu, dimana kita bersama-sama menjel;ajahi dunia baru ini. Kendati secara diam-diam. Sampai-sampai kita hapal semua jalan dan tikungan yang ada. Sama halnya seperti kamu yang sudah hapal setiap lekukan yang ada ditubuhku” tak lama kemudian ia mengambil sebatang rokok lagi dari tempatnya. Lalu dinyalakannya. Dihisapnya.
“Tentu saja aku tidak akan pernah melupakan semua itu. Tetapi tidak untuk sekarang!” Ia menatapku.
“Tapi kenapa?”
“Justru karena itu, karena sekarang aku akan segera meminangmu!” ucapku sambil membuang rokok yang baru dihisapnya itu.
“Sebab, cinta itu tak pernah tumbuh di jalan-jalan!” kataku sambil memeluk tubuhnya. Dia pun membalasnya. Erat sekali.***



Kamis, 15 Desember 2016

Cerpen Remaja: Yang Tak Pernah Kumiliki

Yang Tak Pernah Kumiliki
Oleh : De Shandy

Aku tak tahu, entah kenapa gadis yang bernama Ellen itu mau bersahabat denganku yang hanya seorang perempuan sederhana. Padahal Ellen itu adalah anak dari orang yang sangat kaya raya di kotaku. Juga orangnya yang sangat pintar dan wajahnya yang begitu cantik, pantas saja kalau di sekolah ia dijuluki sebagai kembangnya kampus. Maka, wajar kalau banyak laki-laki yang mengejar-ngejarnya, karena selain cantik Ellen juga orangnya yang cukup ramah.
Aku merasa bangga dan bahagia dapat bersahabat dengannya, karena Ellen itu juga orangnya yang sangat baik. Dan, hanya akulah sahabat satu-satunya  terdekat Ellen. Namun entah kenapa dia mau bersahabat denganku yang hanya orang sedernaha? Tapi kiranya itupun hanya Ellen yang tahu.
Lima tahun waktu yang telah aku habiskan berteman bersama Ellen, semenjak kami sama-sama sekolah di SMP dulu. Sekarang kami sudah berada di kelas tiga SMA, dan ia masih tetap saja sahabatku yang paling sejati.
“Anak-anak, kita kedatangan teman baru,” kata Bu Guru ketika pelajaran akan di mulai.
“Siapa, Bu?” tanya salah seorang teman kami.
“Ayo, silakan masuk!” kata Bu Guru mempersilahkan masuk kepada anak baru  itu.
“Ayo, perkenalkan dirimu pada teman-teman kamu ini,” tembal Bu Guru.
“Selamat pagi teman-teman!” sapanya.
“Pagi,” jawab kami serentak.
“Namaku Dimas. Aku pindahan dari Jakarta,” kata anak baru itu memperkenalkan diri.
“Nah Dimas, sudah dulu perkenalannya, nanti bisa disambung lagi. Sekarang kau sudah boleh duduk,” kata Bu guru.
“Di mana, Bu?” tanya anak baru itu. Ibu guru terdiam sesaat.
“Eko, ia duduk bersamamu, ya? Dan kau Edo pindah ke belakang duduk dengan Anisa!” kata Bu Guru.
“Baik, Bu.” tembal Eko dan Edo.
“Dimas, ayo duduk!” ajak Eko kepada Dimas. Tak lama kemudian, Dimas pun  duduk bersama Eko. Dimas duduk persis di depan mejaku dengan Ellen.
“Oh iya, namaku Dimas,” sapanya sambil mengulurkan tangannya kepada Ellen.
“Namaku Ellen,” jawab Ellen.
“Aku Dimas!” Dimas juga memperkenalkan dirinya kepadaku.
“Aku Alisa,” jawabku sambil kujabat tangannya.
“Senang sekali, aku bisa berkenalan dengan kalian semua,” tembalnya sambil kembali mengarahkan pendanggannya ke arah papan tulis, hingga pelajaran pun selesai. Lantas kami segera keluar dari kelas, pulang menuju rumah masing-masing.
“Lisa, ngomong-ngomong anak baru tadi lumayan juga, ya?” cetus Ellen kepadaku.
“Ehm…rupanya di sini ada orang yang lagi kesengsem nih,” ledekku kepada Ellen.
“Ah, kamu ini bisa saja, aku kan cuma memujinya. Apa memuji itu nggak boleh?” tembal Ellen.
“Memuji…apa memuji…” aku menggodanya.
“Memuji,” desah Ellen dibarengi dengan raut wajahnya yang putih itu nampak berubah  kemerah-merahan. Rupanya Ellen terpesona oleh Dimas.
**

“Alisa, berangkat bareng, yuk?”  ajak Dimas kepadaku. Aku sedang menunggu Ellen yang biasa datang menjemputku berangkat sekolah.
“Dimas!” kataku kaget. Ternyata Dimas tinggal persis di depan rumahku.
“Tidak ah, terima kasih. Aku sedang menunggu Ellen, temanku!” tembalku.
“Oh…Ellen, teman sebangkumu itu ya?” Tanya Dimas.
“Iya,” jawabku. Tapi Dimas tidak lantas pergi, ia berdiri di sampingku menunggu Ellen yang biasanya datang menjemputku.
“Tak lama kemudian, Dimas pun segera menghidupkan sepeda motornya.
“Ayo, naiklah!” tembalnya.
“Mungkin hari ini Ellen tak akan menjemputmu. Lekaslah, kita sudah kesiangan nih!” kata Dimas sambil melihat jam yang ada di tanggannya itu. Aku tak bisa menolak ajakan Dimas. Mungkin hari ini Ellen tak akan datang menjemputku, apalagi aku pun sudah terlambat, terpaksa aku menuruti ajakan Dimas. Aku pun lekas naik ke sepeda motornya.
“Oh iya Dimas, Ellen titip salam buatmu,” kataku.
“Ah, kamu ini bisa saja,” Dimas menanggapinya dingin.
“Benar, rupanya Ellen itu menaruh simpatik buatmu,” kataku.
“Mana mungkin itu terjadi. Aku kan…”
“Tapi bener lho,” kataku memotong bicaranya.
“Apa nanti nggak akan ada yang cemburu nih?” Dimas meledekku sambil matanya yang sayu itu meneleng  ke arahku.
“Siapa lagi yang akan cemburu,” kataku sambil mencubit lenggannya. Semenjak itu hubungan kami pun semakin akrab, dan kedekatannya dengan Ellen pun semakin erat.
Namun, semuanya tak berjalan lama, perubahan sikap Ellen kepadaku berbeda dari seperti biasannya. Sejak kedatangan Dimas diantara kami, Ellen keliru mengartikan kabaikanku kepada Dimas, hingga persahabatan kami pun menjadi kurang sehat.
“Percayalah Ellen, aku tidak akan berbuat kelakuan senista itu. Jangankan aku bermimpi menjadi miliknya, menarik perhatiaannya pun aku tak berani,” kataku, karena aku sadar siapa sebenarnya aku ini. Bila dibandingkan dengan Ellen yang cantik dan kaya itu, aku tidak ada apa-apanya.
“Kau bohong!” cetus Ellen seakan tak percaya dengan semua perkataanku itu.
“Itu semua benar, Ellen! Aku tidak ada apa-apa dengan Dimas. Jika kau masih meragukannya, sekarang aku akan bersumpah di hadapanmu.” kataku. Tak terasa basah mata pun telah melumuri kedua pipiku. Aku sedih sekali, ketika Ellen yang sudah lama sekali menjadi sahabatku, sekarang ia sudah meragukan kejujuranku. Ellen sudah tak mempercayaiku lagi.
“Aku akan bersumpah di hadapanmu! Demi Allah, aku…” Ellen menempelkan jemarinya ke mulutku. Akupun tak bisa berkta-kata lagi.
“Alisa, sudah! Aku percaya kepadamu.” kata Ellen dengan suaranya yang berat menahan air mata.
“Ellen,” lirihku, sambil menatap mata Ellen. Terlihat butir-butir air mata telah menetes dari sudut-sudut matanya. Aku segera memeluk tubuhnya.
“Alisa, maafkan aku! Kau ternyata sahabatku yang paling baik.” desah Ellen dengan suaranya yang berat dengan air mata.
“Tidak, Ellen! Justru aku yang seharusnya minta maaf kepadamu,” kataku lirih. Aku memeluk tubuhnya erat sekali. Ellen pun membalasnya. Semenjak itu, persahabatan kami pun kembali membaik.
“Belum pulang, Lis? Kata seseorang memecahkan lamunanku. Aku menoleh ke arah suara itu, ternyata Dimas.
“Ellen mana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Sudah kuantar pulang,” jawab Dimas.
“Bagaimana kalau kita pulang bersama, ada yang perlu aku sampaikan kepadamu.” katanya.
“Begitu pentingkah, Dim?” tanyaku.
“Ayolah Lis, masalah ini jangan sampai berlarut-larut.” pintanya. Akhirnya, aku pun menurut saja.
“Oh iya Dim, apa yang hendak kau sampaikan padaku itu?” tanyaku setelah sesampainya di rumah.
“Begini Lis, ternyata Ellen telah salah sangka dengan kebaikanku selama ini kepadanya. Kau tahu, Ellen ternyata mencintaiku,” katanya.
“Oh iya,” kataku pura-pura tak mengerti.
“Bukankah seharusnya kau itu bangga mendapatkan Ellen yang baik itu juga cantik.’ tembalku.
“Tidak Lis, sebab hatiku telah terpaut dengan seseorang yang sangat kukagumi selama ini,” katanya.
“Lalu siapakah perempuan yang beruntung itu, Dim?” kataku penasaran.
“Kamu,” jawab Dimas.
“He…he..” aku tak dapat menahan tawaku, kukira Dimas bercanda.
“Aku mencintaimu, Alisa!” katanya tegas.
“Aku!” aku melongo. Sejenak  aku terdiam, berpikir.  
“Tidak Dimas, jangan aku. Aku tak mungkin bersaing dengannya. Kalau kamu tak menerima Ellen, lebih baik kau juga tak perlu berteman lagi denganku. Biarkan kami menghadapi ujian akhir dengan tenang.” jelasku.
Tiba-tiba aku melihat Ellen keluar dari balik rumahku. Ternyata dari tadi Ellen mengawasi kami berdua.
“Alisa, kau adalah temanku yang sejati. Tidak, aku tak akan pernah lagi untuk menyakitimu.” kata Ellen yang begitu erat memeluk tubuhku.
“Ellen,” desahku lirih. Tak terasa air mata pun telah mengalir membasahi pipi kami berdua. Tapi, sejujurnya sebagian dari air mataku itu adalah untuk kepergian Dimas yang telah meninggalkan kami berdua dengan membawa seribu kekecewaan di dalam hatinya.

“Maafkan aku Dimas! Kau tak lebih dari seseorang yang tak akan pernah kumiliki.” Gumamku.***